Aku ngga bisa
nulis dengan indah karena aku bukan penulis yang bisa nulis dengan panjang dan
dengan pemilihan kata-kata yang indah untuk dibaca. Aku hanya sekedar
menuangkan apa yang ada di pikiran ku dengan cara sederhana dan dengan bahasa
yang hanya bisa aku mengerti.
Tulisan-tulisan ku
ngga seindah saat puisi karya maestro puisi hebat mulai dibacakan didepan para
penikmat puisi. Aku bukan penyair ataupun penulis puisi. Aku hanya seorang
pembelajar tulisan yang hanya bisa merangkai kata-kata yang tak seindah para penyair
menjadi sebuah kalimat yang sesuai dengan standart kalimat pada umumnya dan
kemudian menjadi sebuah paragraph yang bisa dibaca oleh pikiranku.
Aku bukan penulis.
Aku bukan penyair. Aku juga bukan sastrawan. Aku hanya manusia biasa yang
mencoba memindahkan segala yang ada di otak dan pikiran ke dalam sebuah tulisan.
Kebahagian itu
muncul bukan hanya ketika kita punya banyak uang, lalu kita bisa membeli barang
dan membelanjakan uang itu dengan apapun yang kita mau. Atau saat kita punya
pacar yang ganteng, berduit dan setia, lalu kita dengan banggabya memamerkan
nya kedepan teman-teman kita. Atau mungkin saat kita bisa melihat konser music dari
musisi favorit kita. Kebahagian bukan hanya saat kita dapat nilai tertinggi di
ujian dan orang lain menyebut-nyebut nama kita. Bukan kebahagian seperti itu
yang kita cari, tapi kebahagian yang tulus dari hati. Bukan hanya karena
dipaksa.
Kebahagian lain
yang bisa kita rasakan tulus adalah saat kita bisa bikin orang disekitar kita
tersenyum karena kita, terutama saat kita bisa bikin orang tua kita tersenyum lepas
karena ketololan yang kita perbuat.
Kebahagian yang
tulus saat kita bisa memberi orang disekitar kita sesuatu yang tak mahal , tapi
kita dapat dari hasil jerih payah kita sendiri. Dan ketika mereka bilang “aku bangga sama kamu nak”. Itulah kebahagian
yang indah.
Wahai pemilik
nyawa ini, apakah akau salah kalau aku menangis waktu ini. Padahal baru kemarin
aku nulis tentang galau, tapi sekarang aku sendiri yang ngalami kegalauan itu. Tuhan
aku nangis juga ada alasannya, bukan hanya sekedar nangis. Kamu tau betapa
besarnya rasa ini kepadanya. Betapa saya sangat merindukannya ketika dia tidak
memberi saya kabar. Rasa sayang saya kedia sudah terlalu besar dan meluap-luap.
Kenapa dia masih saja tidak mengerti apa yang aku rasakan.
Sakit saat
dia bikin saya kecewa. Sakit saat dia tiba-tiba mengingkari sebuah janji. Aku jatuh
Tuhan, jatuh terlalu dalam di perasaan bodoh ini. Harusnya dulu kau tak usah
menuliskan namanya di buku kehidupanku. Aku suka dia, aku sayang dia.
Nangis, aku
nangis lagi. Aku merasakan rasa sakit lagi. Aku tau aku salah, aku bukan
seperti wanita itu. tapi kalau aku suka sama dia ngga boleh ya?
Aku memang
belum kenal dia, tau wujudnya pun belum. Tapi demi apapun aku sayang dia tulus.
Mengetahui bahwa
orang yang kita sedang incar untuk menjadi pacar atau sering kali sebut dengan
gebetan telah berubah dari perkiraan kita bahkan dia menjauh dari kita, hal itu
membuat kita merasa seketika jatuh dari langit ketujuh saat sedang menikmati indahnya
suasana kahyangan.
Sejak awal kita
tahu bahwa ada harapan yang bersinar indah didepan kita tentang hubungan yang
akan dirajut kedepannya. Tiap hari ada pesan masuk di hp kita, sekedar hanya
mengingatkan untuk makan ataupun untuk sholat. Banyak rayuan-rayuan gombal yang
muncul di percakapan antara kita dan dia yang membuat kita seakan menjadi
wanita satu-satunya yang tinggl di bumi. Tiap kita sedang online, tiba-tiba dia
datang dan mulai terjadilah percakapan di dunia maya. Jalan-jalan bersama dia adalah
hal yang paling indah untuk dikenang, menatap wajahnya yang tampan bagi kita. Mengenalkan
kita didepan teman-teman baiknya, seolah-olah kita adalah wanita yang paling
pas untuk bersandar di pundaknya. Bahkan sebuah lagu tercipta dari tangan
maestronya yang sempat bikin kita jatuh tak bertenaga.
Tiba-tiba dia
begitu saja menghilang tanpa jejak, tak ada kabar dari dia. Ngga ada lagi orang
yang ngingetin kita untuk makan, untuk sholat dan lain sebagainya. Ngga ada
lagi yang ngerayu-rayu kita dengan gombalan-gombalan busuk itu.
Sering kali kita
bakalan kelewat jauh melakukan suatu hal hanya demi untuk mendapatkan kabar
dari dia. Nyoba sms dia berharap dia akan membalas sms kita, tapi ternyta engga.
Ngga hanya satu dua kali kita sms, tapi berkali-kali seolah-olah kita
benar-benar kehilangan dia Nulis status difacebook dengan bahasa sedikit
menyindir tentang dia, namun ngga ada tanggepan dari dia, ngechat dia namun
ngga dibales, ngewall dia namun ngga dianggap dan ngga dibalas, ngucapin
selamat atas apa yang dia raih namun tanggapan ketus yang kita dapat. Nyoba
lewat bolak-balik kekampusnya berharap dia ada dan nyuruh berhenti, namun dia
engga ada.
Kerjaan kita tiap
hari hanya mantengi hape, berharap dia bakal hbungi kita, ternyta nihil ngga
ada kabar dari dia. Ataupun online sampai larut malam berharap dia juga bakal
online, namun sampai kita tertidur didepan computer ngga sedikitpun dia nampak.
Saat itu hal
satu-satunya adalah tetap diam dan diam, berharap ada malaikat cinta yang akan
menolong kita dengan keadaan yang serba ngga enak ini. Berdoa dan sebut-sebut
nama dia semoga dia jodoh kita.
Pertanyaan
seperti itu sering kali muncul saat aku puya teman baru. Engga cuma sekali dua
kali, tapi berkali-kali, engga laki-laki tapi juga perempuan. Bukan hanya
teman-teman baruku, tapi teman-teman adek ku juga sering bertanya soal itu.
Mata
yang sedikit sipit, postur tubuh yang ngga tinggi-tinggi banget dan kulit yang
engga putih tapi bukan juga coklat seperti layaknya kulit orang Indonesia,
kulit ku memang kuning yang sering kali di identik’an dengan kulit orang cina. Mata
yang engga besar dan engga terlalu sipit juga menambah ciri orang china
kepadaku.
Pernah
suatu waktu ibuku bercerita tentang kejadian di masa lampau tentang identitasku.
Seperti inilah kira-kira percakapanya
Orang
lewat: buk mau Tanya boleh
engga?
Ibu: boleh ada cik?(kebetulan orang
itu cina)
Orang
lewat: tapi maap lhu ya buk
Ibu: iya ada apa cik, kenapa pakai
map
Orang
lewat: ibu suaminya cina ya?
Ibu: lhu lha kenapa memang?
Orang
lewat: itu anaknya kok kayak
cina, putih banget (kebetulan saat itu yang sedang berada digendongannya adalah
aku)
Ibu: (dengan ekpresi serius) iya cik,
suami saya cina
Sumpah
rasanya tu kayak pengen bunuh tu orang pake mulut buaya lhu. Bukannya aku ngga
suka dibilang mirip orang china. Aku orang Jawa asli, lahir dari keluarga yang
berasal dari Klaten dan Pracimantoro. Aku bukan cina, aku Jawa.
Pertama
kali aku dibilang seperti itu aku nangis, aku jelasin ke mereka dengan susah
apayah kalau aku Jawa asli. Rumah ku memang terletak di tengah-tengah orang
cina, temen main ku pun waktu kecil juga memang orang cina. Tapi aku bukan aku
cina.
Setelah
sering mendapat pertanyaan seperti itu, aku jadi pasarah saat orang bertanya
seperti itu lagi kepada saya. Dengan hanya membalas pertanyaan seperti itu
dengan senyuman manis. Lama-kelamaan aku malah suka kalau aku disebut cina.