Selasa, 14 Februari 2012

hanya beberapa imajinasi yang digabung menjadi satu !!!


Saat ini aku benar-benar lebih memilih untuk menyukai gelap. Karena terang telah menyeretku terlalu dalam ke perasaan yang membuat ku terlalu jauh mencintai mu.
Aku suka gelap. Karena disanalah aku tidak akan melihat siapapun termasuk kamu. Aku hanya melihat hitam dimanapun aku mengarahkan mataku. Aku tidak akan pernah merasakan perasaan yang berlebihan seperti ini.
***
Mencoba sekuat apapun, aku masih saja jatuh dalam perasaan yang sama. Perasaan dimana aku menyayangimu dengan sangat. Segala cara telah aku lakukan agar semua pikiran dan bayangan tentang mu hilang perlahan. Namun, tak mudah untuk melupakan sosok sempurna seperti mu. Sosok yang pernah buat aku berdiri menantang badai. Sosok yang pernah membuatku terbang ke dalam angan-angan yang indah.
Kau terlalu berbahaya untuk dikenang. Setiap kali aku mencoba untuk melupakan mu. Kau selalu datang dengan membawa belati di tangan kiri mu. Kau mengancam ku dengan belatimu itu, agar aku tetap disampingmu. Dan tetap menyayangimu, walaupun kau tak pernah mengerti betapa aku sakit terlalu dalam terhadapmu.
Kau tak pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi aku,


kata-kata ku !!!


Kata-kata ku sederhana, bukan kata-kata yang akan membuat pikiran orang terus berputar tak beraturan hanya untuk menentukan apa yang dimaksud.
Kata-kata ku sederhana, bukan bualan-bualan manis yang akan membuat orang melayang saat membacanya.
Kata-kata ku sederhana, tanpa kiasan tanpa majas tanpa ekpresi yang akan membuatnya berseni saat disajikan.
Kata-kata ku sederhana, tanpa ada kalimat panjang yang panjang yang akan menjadi teman saat sendiri.
Kata-kata ku sederhana, hanya kata-kata yang biasa, tanpa majas, tanpa kiasan, tanpa bualan.
Aku tak butuh kata-kata yang panjang hanya untuk membuat orang lain mengerti tentang maksud ku.
Yang aku butuhkan saat ini adalah imajinasi berlebihan yang akan membuat ku semakin terus memutar-mutar beberapa kata menjadi sebuah khayalan yang apik.

....


Ahh, sakit ini datang lagi. Sakit yang sangat amat menyiksa. Terasa berat di kepala ini.lebih dari tujuh hari sudah aku merasakan sakit yang teramat luar biasa ini.sakit yang hanya menciprkana dunia gelap. Aku ngga mauharus bertaruh nyawa dengan obat-obatan itu. aku ngga mau harus tergantung dengan racunitu.
Ini sakit apa tah? Luar biasa sekali. Dalam 24 jam hidupku, lebih dari  sepuluh kali secara berulang sakit itu datang dan menyiksa kuperlahan. Pelan namun membunuhku.
Aku ngga mau penyakit ini yang bakal membuat semua orang perhatian denganku. Aku ngga mau sakit ini tumbuh besar di kepala ku.

ketika aku ...


Ketika aku diletakkan dalam sebuah ruangan kosong tanpa ada siapapun didalamnya. Yang aku inginkan adalah ada beberapa burung pipit yang berkicau, mendendangkan sebuah lagu yang akan membuatku jatuh dalam tidur panjang.
Ketika aku diletakkan dalam sebuah lapangan hijau berumput yang luas. Yang aku minta adalah katak-katak mulai menemani ku dan berada disampingku, lalu mereka dengan perasaan nyaman mulai menina bobo’kan saya dalam tidur siang ku.
Ketika aku diletakkan dalam sebuah padang gurun yang hanya ada aku dan ribuan partikel pasir. Yang aku inginkan adalah beberapa rumpun bambu yang tumbuh disampingku dan mulai tertiup angin yang berhembus, menciptakan suatu harmonisasi yang akan membuat saya larut dalam alunan nya.
Ketika aku diletkkan dalam sebuah tempat yang hanya berisi air yang tak bisa ditakar. Yang aku inginkan adalah ada beberapa lumba-lumba yang menemani ku berenang didalam nya. Sehingga aku akan larut didalamnya dan akan memusnahkan semua permasalahan yang sedang aku alami.

Minggu, 12 Februari 2012

cita-cita kuu !!!

Setiap orang punya cita-cita. Waktu aku kecil pernah ditanya “apa cita-cita mu?”. Sebagai seorang anak kecil yang belum ngerti tentang apapun tentang kehidupan dunia, aku hanya bisa menjawab “dokter”. Hahaha, kalau inget itu mesti ketawa sendiri. Sejak kecil para orang tua selalu mengajarkan kita untuk jadi dokter, atau polisi, guru, tentara, presiden dan lain sebagainya. Mereka ingin anak-anak mereka tumbuh besar dan mendapatkan pekerjaan seperti apa yang mereka ajarkan pada anak-anak mereka waktu kecil.
Aku bercita-cita jadi dokter, minimal bidan lah. Tapi setelah aku besar, aku sadar dan mendapati bahwa aku ngga mungkin jadi dokter, tapi trauma di masa kecil yang menjerat ku sampai dewasa memaksa ku untuk mengakhiri cita-cita ku saat itu juga.
Ketika libur lebaran tiba pergi kerumah eyang itu menjadi sebuah agenda penting. Disaat itulah semua orang-orang tua menginginkan ku menjadi bidan, lalu mengabdi didesa mereka.
“nduk cah ayu, ndang lulus ya, gek dadi bidan, terus ngabdi ning kene”
Bukan satu orang, tapi banyak bahkan semua orang yang mendoakan ku seperti itu. itu terjadi ketika aku masih smp dan sma. Namun setelah bangku kuliah ku pijaki, doa-doa mereka tidak dikabulkan.
Maaf, bukannya aku ngga mau jadi apa yang kalian pengen. Trauma jarum suntik dan darah membuat ku harus memaksa diri ku sendiri untuk membuat doa-doa kalian tidak dikabulkan.
P M R, adalah kegiatan ku untuk menghilangkan trauma itu, namun tetep tidak bisa. Aku masih saja terjebak dengan trauma ku.
Cita-citaku di masa sekarang bukan menjadi dokter lagi. Aku hanya ada tiga cita-cita saat ini
©      Pengen bahagiakan kedua orang tua dan keempat sodara ku
©      Pengen jadi ibu yang baik untuk imam dan anak ku kelak
©      Pengen bisa jadi orang yang berguna di masyarakat (jadi penulis)
Aku ngga pengen lagi jadi dokter. Aku sudah gdhe, aku punya cita-cita yang lebih baik dari sekedar menjadi dokter.

fighting, i can do it !!!


Kemarin, 9 Februari 2012, aku dan beberapa teman kampus memtuskan untuk bersenang-senang tak berguna. Tujuan kami sama, shoping, biasalah cewek semua dan itu sudah hobby bersama.
Disaat beberapa dari mereka sibuk menyibak-nyibak baju dan membuatnya berantakan. Memilih mana yang cocok buat mereka dan tentunya kantong mereka. Aku dan kedua teman ku sibuk masuk ke toko buku.
Aku mencoba untuk memusatkan pikiran ku ke deretan buku-buku yang disusun rapi di etalase toko. Banyak buku-buku yang bagus disana, banyak yang harus dibeli dan dibaca. Aku tertarik dengan salah satu sudut toko itu yang memajang beberapa novel karangan beberapa penulis. Aku mencoba membaca salah satu dari karya itu. Yang ada di otak ku kala itu cuma satu
“kenapa yang lain bisa bikin lebih dari satu, sedangkan aku engga bisa”.
Sumpah, saat itu rasanya pengen ngobrak-abrik tu toko. Aku pengen bisa kayak mereka. Pengen bisa buat sebuah karya yang apik.  Pengen punya buku kayak mereka, pengen buku ku itu dipajang di banyak toko buku di seluruh kota di Indonesia. Pengen karya ku dibaca oleh orang lain, sehingga akan ada banyak masukan dari mereka.
Otak ku berpikir keras bagaimana agar aku bisa jadi kayak mereka. Pengen berdiri di barisan orang-orang yang disebut penulis.