Jumat, 20 Januari 2012


Sore itu, jalan Urip Sumoharjo ku lihat sekumpulan anak-anak yang membawa gitar kecil ditangan kirinya berjejer rapi di trotoar. Langkah-langkah kaki kecil mereka yang aku bisa meneak mereka baru berumur 7 sampai 8 tahun berjalan menyusuri jalanan yang kala itu padat oleh motor dan mobil yang berjejer rapi menunggu lampu hijau menyala. Badan mereka yang hitam karena setiap hari harus bertarung melawan panasnya matahari. Pakaian yang serba hitam dengan beberapa besi berbentuk bulat yang menggantung di pinggang kecil mereka yang masih rapuh untuk menopang beban yang berat itu. Kaki kecil mereka yang tak beralaskan apapun mampu berjalan menyusuri dan kuat berjalan di jalanan beraspal yang panas kala itu tertimpa sinar matahari di sore hari.

Dengan tangan menengadah keatas, muka melas, cara itulah yang mereka gunakan untuk mencari rejeki dari orang-orang. “pak, buk nyuwun artane, dingo maem “ ucapan yang mereka katakan pada orang-orang. Atau dengan cara sedikit mengeluarkan bakat yang kadang mereka paksakan untuk keluar, menyanyi lagu-lagu yang ngga pantas untuk mereka dengarkan dan dendangkan.
 Dari sejak matahari terbit dan matahari tenggelam, sejak matahari terbangun dan matahari tertidur pulas mereka tetap disana mengais-ngais sisa–sisa rejeki yang sengaja diberikan kepada pengguna jalan. Waktu mereka hanya dihabiskan di jalanan dan bahkan mereka harus tidur di trotoar jalan. Bisa kita bayangkan setiap hari mereka harus bekerja mengais rejeki di jalanan, setiap hari mereka harus bergumul dengan kendaraan yang sesak memenuhi jalanan. Racun-racun yang setiap detik kendaraan yang berlalu lalang hasilkan dari pembakaran pada mesin mereka harus hirup setiap kali mereka menarik nafas. Bagaimana keadaan paru-paru mereka ? belum saat malam datang, mereka harus berebut tempat di depan toko untuk tidur. Tanpa ada selimut bahkan kasur yang empuk yang menemani mereka, hanya tubuh kecil mereka yang mereka andalkan untuk  tidak menahan kerasnya dingginnya angin malam yang selalu terhembus dan menerpa tubuh mereka. 

Apakah mereka juga mengenyam bangku pendidikan? Aku fikir sebagian dari mereka masih bisa merasakan enaknya pelajaran matematika, bahasa, ipa dan lain sebagainya. Pernah aku mendapatkan seorang teman pada waktu masih berada di bangku sekolah dasar. Dia bernama Halini, ya dia juga seorang pengamen. Setiap hari dia berangkat ke sekolah dan setelahnya sisa waktunya dia habiskan untuk mengais rejeki di jalanan yang berbahaya baginya. Kenapa dia harus melakukan pekerjaan itu? kenapa dia harus bekerja sepulang sekolah?, dimana orang tuanya ? dia harus menyelamatkan keluarganya agar tetap hidup, orangtuanya hanya diam mengawasinya di jalanan, setelah beberapa recehan berhasil dia kumpulkan, uang itu harus dia setorkan kepada orang tuanya sendiri. Can you imagine it ? hidup mereka itu serba keras. 

Pernah dengan mata dan kepala ku sendiri aku mendapati anak yang baru berusia sekitar lima tahun harus berjuang dengan adiknya yang baru berusia sekitar empat tahun berada digendongannya menyusuri jalanan didekat Manahan untuk mencari sisa-sisa uang yang dilemparkan orang-orang kepadanya. Setelah beberapa saat, dua orang pria dan wanita datang mengambil uang itu dan membawanya pergi. Kalian siapa tau mereka ? mereka orangtua kedua anak itu. Aku sempat bertanya kepada penduduk sekitar dan aku mendapati fakta yang mengatakan bahwa mereka berempat hidup hanya dari penghasilan anak-anak kecil itu. Serasa ada kilat menyambar-nyambar malam itu di depan saya setelah aku mendapati fakta itu. Sadis memang, tapi itu kenyataan yang harus mereka dapatkan. 

Bagaimana dengan sekolah mereka? Apakah mereka harus menerima keadaan itu saja. Mereka punya hak yang sama dengan kita. Mereka harus nya menghabiskan lima jam mereka untuk menerima pelajaran dari guru-guru yang akan memberikan mereka pengetahuan yang luas sehingga mereka dapat memanfaatkannya. Mereka tak harus bekerja di usia yang sedini itu. Kadang saya berfikir, bagaimana caranya mereka agar mendapat pendidikan yang sama sepertiku, bisa mengenal penjumlahan, pengurangan, pola spok dalam bahasa Indonesia, tahu bagaimana asap kendaraan itu merusak paru-paru mereka, tahu kalau ada salah satu pasal yang menyebutkan setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak . Seharusnya kalian mendapatkan itu, bukannya racun-racun yang masuk setiap hari, dinginnya angin malam, kadang kekerasan dari orang tua kalian yang membuat tubuh mungil kalian terlihat membiru.

Manusia itu makhluk sosial yang butuh orang lain untuk masuk kedalam hidupnya, untuk membantu satu sama lain, untuk saling menyayangi (menurut pelajaran yang aku dapet dari sejak jaman kelas tiga sd sampai kuliah). Mereka butuh yang lainnya untuk menyalurkan hasrat dan nafsu yang biasanya kita sebut dengan cinta yang sudah tertanam sejak mereka berada di kandungan. Setiap jengkal langkah kita bakal menemui kata-kata cinta. Setiap tarikan nafas kita ada sedikit butiran-butiran halus yang berisi cinta entah darimana datangnya yang masuk kedalam saluran pernafasan kita dan mengendap disana. Manusia punya fase hidup yang complicated. Kadang mereka senang, kadang mereka sedih mendadak. Suatu waktu mereka tertawa terbahak-bahak, namun mereka juga bisa menangis tak terduga. Mereka bisa berada di fase tertinggi dan suatu saat dan tidak terduga bisa berada di fase yang paling terendah. Hal kecil yang membuat semua itu bisa terjadi adalah kata cinta yang saya pikir ngga ada pengertian pasti mengenai kata itu.


Cinta itu ngga mengenal kata usia, keadaan, waktu bahkan jenis kelamin. Cinta itu bisa menyerang di kisaran usia berapapun, orang yang sudah tua pun bakalan bisa kena yang namanya syndrom cinta, bahkan anak kecil yang belum bisa membedakan apakah ini merah atau hitam pun bisa kena syndrome itu. Fakta ini terjadi di depan mata saya berkali-kali, salah satunya anak didik ku yang dengan santainya saling melempar kata-kata tentang pasangan mereka masing-masing, aku hanya bisa terdiam dan mlongo mendengarnya, tak banyak kata yang terucap untuk mengomentari fakta itu. Terbukti cinta itu pelanggar peraturan, dia sering masuk orbit yang salah dan menjebak orang-orang agar masuk didalamnya.


Ada fase dimana setiap orang bakalan merasakan yang namanya sakit hati. Sakit hati itu ada banyak penyebabnya mulai dari gara-gara omongan orang yang belum tentu benar, dikhianati sama teman atau siapapun dan yang paling banyak diminati adalah gara-gara cinta. Sakit hati gara-gara cinta biasa kita sebut dengan patah hati. Patah hati itu bisa datang kapanpun dan dimanapun. Fase ini yang paling banyak membuat seseorang berubah menjadi bukan dirinya. Saat fase patah hati datang, dunia itu bagaikan kiamat bagi orang itu. Dikala pacar atau orang yang kita sayang dengan tiba-tiba mengeluarkan pernyataan yang isinya ngga pernah kita harap diucapkan olehnya serasa langit yang kala itu cerah dan berawan berubah menjadi hitam pekat,sepekat limbah pabrik-pabrik yang dibuang bebas ke aliran sungai-sungai. Tetesan air mata segera mengalir deras mengaliri pori-pori muka kita, dan akhirnya membuat sebuah bendungan di tangan kita. Seketika muncullah malaikat pencabut nyawa dan dia akan berkata kepada kita “ajal mu sudah datang”.


Fase patah hati menyerang baik laki-laki maupun perempuan, tapi perempuan lah yang lebih sering mendramatisir keadaan. Perempuan lebih berfikir menggunakan hati bukan dengan logikanya, berbeda dengan laki-laki yang lebih berfikir menggunakan logika mereka, jadi wajar jika seorang perempuan lebih sering stress gara-gara patah hati. Perempuan akan berubah menjadi monster buruk rupa yang mukanya dipenuhi dengan air mata yang siap melempar dan menyerang dengan cacian dan makian saat seseorang mengganggunya pada saat mereka mengalami fase yang dinamakan patah hati. Seperti saya, saat patah hati menyerang tiba-tiba, menangis adalah hal yang akan saya lakukan pertama kalinya. Ditemani beberapa boneka yang ada di kasur, biasanya saya akan banyak menghabiskan tangisan ku disana selama beberapa hari. Dengan sedikit terisak-isak, aku merangkai kata-kata yang seolah-olah menyesal dengan apa yang sudah diputuskan.

“kenapa kau berbuat seperti itu”
“kenapa harus sekarang kau melakukanya saat aku sudah jatuh dalam “

Akan ada banyak kenapa dalam monoloque saya itu. Dengan sedikit memberi pukulan-pukulan kepada boneka yang aku anggap sebagai seseorang yang telah membuat aku berubah menjadi monster tangis, boneka-boneka itu tidak bersalah dan tidak tau menau apa yang terjadi. Patah hati itu ngga cuma berefek satu atau dua hari, biasanya aku akan menghabiskan sekitar seminggu lebih untuk menghabiskan fase itu. Setelah puas menangis, melempar cacian di dunia maya adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Kata-kata indah aku rangkai untuk menjelek-jelekan laki-laki itu, dari abjad a sampai z akan aku pakai untuk mendukung kegiatan itu. Setelah puas mendedangkan cacian, baru sadar ternyata kegiatan itu membuat semua orang tertarik dengan apa yang sedang aku alami. Mereka bertanya apa yang terjadi dan saya akan menjawab pertanyaan yang muncul dengan jawaban yang seolah-olah menyudutkan pihak pria dan akan datang banyak simpati kepadaku. Dengan seperti itu, patah hati yang aku rasakan akan sedikit terobati. Efek lain dari patah hati adalah badan ku yang akan mekar. Makanan adalah obat paling mujarab bagi saya untuk mengobati patah hati, aku akan banyak menghabiskan makanan pada fase itu dan itu menyebabkan berat badan melonjak seketika.


Fase patah hati itu fase tersulit bagi seorang perempuan untuk menjalaninya.

Selasa, 17 Januari 2012

Saat aku mecoba membuka memori yang sudah benar-benar tersimpan di dalam setiap lekukan otak ku, aku selalu menemukan mereka di setiap lekukan itu. aku merindukaan saat-saat itu, saat bersama mereka. Saat berbagi kebahagian bersama mereka. Aku rindu mereka. Aku merindukan saat mereka memanggil namaku dengan cara-cara lucu mereka. Aku rindu saat mereka menyayangiku dengan ikhlas. Aku rindu saat melihat mereka tertawa terbahak-bahak, saat mereka bernyanyi bersama. Aku rindu saat mereka meminta dengan merengek-rengek agar aku tetap bersama mereka. Aku rindu saat mereka meminta ku agar aku selalu ada untuk mendampingi mereka. Peluka-pelukan hangat dari mereka, jabat tangan dari mereka, glendotan mereka yang manja. Semua itu aku rindukan…


Mereka? Siapa mereka ? mereka adalah anak-anak dusun binaan yang aku dan teman-teman ku kelola. Dusun Binaan adalah suatu program kerja dari Departemen Sosma Bem FSSR UNS. Disana kamu mendampingi mereka untuk belajar dan memberikan sedikit pelajaran tentang kepemimpinana. Mereka adalah anak-anak di Mojosongo, tepatnya desa Wonowoso. Saat ini aku benar-benar merindukan mereka








Maaf adik-adik saya, aku benar-benar harus meninggalkan kalian. Ada tanggung jawab yang lebih besar yang harus aku tanggung. I miss you.

29 Februari

06.30 am
Bismillahirahmanirahim


Tulisan kedua ku. Banyak kata-kata yang harusnya ku ungkapkan dalam media ini sejak dari dulu, dan semua baru kusadari sekarang ini. Tulisan keduaku akan mengangkat topic yang amat sangat membuat saya sesak nafas, jantung berdebar cepat, tekanan darah meninggi. Ulang tahun, ya dua kata yang bagi setiap orang adalah sebuah anugrah yang amat sangat luar biasa karena setiap dua kata itu tiba mereka bakalan merayakan besar, bahkan sampai membuat sebuah pesta yang menghabiskan banyak uang hanya untuk perayaan sekecil itu. Aku sangat membenci kata-kata ulang tahun. Mungkin ada banyak pertanyaan yang akan muncul saat saya mengeluarkan statement itu. mulai dari What, Why, How dan masih banyak lagi. Jawaban saya simple kok, aku ngga suka ulang tahun karena aku ngga punya ulang tahun.


Mungkin ada banyak pertanyaan yang datang lagi, kenapa ngga punya ulang tahun? Sejarah panjang akan menjawab pertanyaan itu. Aku dilahirkan dari pasangan ibu dan bapak yang sudah mempunyai tiga orang anak laki-laki, mereka dan orang tua mereka sudah lama menginginkan hadirnya sebuah anak atau cucu perempuan. Tuhan menjawab harapan mereka dengan mengirimkan aku ke bumi ini. Aku lahir pada tanggal 29 Februari 1992, saat aku bilang tanggal ini pasti setiap orang masih belum menyadari apa yang terjadi pada tanggal itu. Tanggal 29 Februari tidak akan ada setiap tahunnya di kalender masehi yang telah dicetak massal dari dahulu oleh bangsa yunani itu. Kenapa hal itu bisa terjadi? Menurut sumber yang saya baca, dari Wikipedia yang menurut saya adalah referensi yang bagus dan ternyata tidak diperuntukkan untuk membuat referensi di sebuah thesis. Well, satu tahun itu tidak hanya 365 hari, tapi 365 hari lebih 5 jam 48 menit 45,1814 detik. Sisa –sisa waktu itu akan terus ditambahkan sampai empat tahun kedepan atau yang sering disebut sebagai tahun kabisat. OMO, jadi 29 Februari itu hanya sisa-sisa yang diberikan. Jadi, kita tidak akan menemui tanggal 29 Februari setiap tahunnya, hanya empat tahun sekali tanggal itu muncul dan menghantui kehidupan saya. Dan semua sudah paham kenapa saya sangat membenci kata ulang tahun. Aku sering bertanya kepada wanita yang melahirkanku, kenapa ngga tanggal 28 Februari atau tanggal 1 Maret saja, kenapa harus tanggal itu. dia menjelaskan semua nya dengan gamblang dan jelas, aku lahir pada pukul 06.00 pagi hari tepat tanggal 29 Februari. Aku kemudian bertanya lagi kenapa ngga ditahan atau dilahirin cepet? Dan pertanyaan ku terjawab oleh rasa keingintahuan ku sendiri, seorang wanita tidak akan bisa menahan untuk melahirkan saat sudah terjadi kontraksi, kenapa bukan hari sebelumnya, karena kontraksi yang terjadi pada ibu ku terjadi malam hari. Dan setelah semua jawaban itu terjawab, aku seketika lemas. Pengen rasanya pinjam pemutar waktu miliknya si doraemon, trus pergi ke waktu itu dan bilang ke ibu ku untuk pake cara sesar saja.

Pending--------
07.10 am. I have no idea to write something.
--- continued 08.06 pm

Aku bingung kudu cerita tentang apa lagi. Kadang aku merasa pengen terjun seketika dari tebing setinggi 65 meter yang bawahnya ada karang yang tajam ketika teman-teman saya secara nyata melakukan sebuah atraksi atau pertunjukan perayaan ulang tahun. Sumpah, rasanya begitu menyakitkan. Ketika tidak ada tanggal 29 februari pada tahun itu dan teman saya pengen mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Mereka berkata “eh ra enek tanggal’e ya, tapi selamat ya “ saat itu rasanya semua gelap, bumi berhenti berputar, malaikat penjemput maut datang dihadapan saya dan dunia berakhir seketika itu juga. Pengen rasanya nangis didepan mereka dan bilang ke mereka “please jangan bunuh saya perlahan-lahan dengan kata-kata mu, itu menyakitkan”. Engga pernah ada perayaan ulang tahun dalam kamus hidup saya, bahkan saat sweet seventeen saat semua orang sibuk gimana caranya bikin party semewah-mewahnya, aku hanya cukup dikado oleh kakak laki-lakiku sebuah jacket berwarna abu-abu yang kini masih setia ku pakai dan ucapan dari keluargaku. Sweet seventeen ku memang ngga indah, ngga ada tanggalnya, ngga ada perayaan. Kadang aku pengen marah dengan Tuhan, kenapa harus aku kenapa ngga mereka yang lain.


Sempat suatu ketika aku dibuat menangis oleh guru sejarah smp ku. Ya awalnya dia hanya bercerita mengenai sejarah, lalu tiba-tiba kata tahun kabisat terucap dari bibir manisnya, dan finally seisi kelas menatapkan muka dan pandangannya kearah ku, dan seketika bercucuran air mata ku karena semua tertawa terbahak-bahak. Kalian semua tidak pernah merasakan menjadi saya, tidak bisa mengerti perasaan saya yang hancur ketika berhadapan dengan kata ulang tahun.
Well, dibalik semua kenegativan yang saya buat, ada sisi positive ngga punya tanggal lahir yang tetap di setiap kalender. Aku ngga bakalan buang buang duit buat ngebiyayain seluruh makanan yang teman-teman saya makan tiap kali mereka minta traktrian. Saya ngga perlu yang namanya kurang umur, karena umurku baru akan 5 tahun nanti tanggal 29 Februari 2012. Ya, aku baru akan menginjakkan umur yang kelima tahun ini. Hebat kan saya, dengan umur 5 tahun saya sudah mengenyam bangku perkuliahan dan sudah akan semester 6. Betapa beruntungnya saya. Disaat anak-anak lain yang berumur 5 tahun baru bisa belajar ngomong a I u e o, aku sudah bisa membaca koran, membuka internet, berbicara dalam berbagai bahasa, menghitung integral, mengajar dan lain sebagainya yang anak seumur 5 tahun tidak bisa lakukan.


Kabisat, ya cukup menyakitkan dan menyenangkan bagiku. Semoga di lima tahun ku ada perubahan massal yang terjadi pada kalender masehi sehingga tanggal 29 Februari ada setiap tahunnya. Semoga lima tahun ku banyak kejutan yang indah bagi saya . Tuhan terima kasih telah menganugerahkan semua ini, kuasamu sangat amat luar biasa.
8.46 pm

Senin, 16 Januari 2012

tentang saya

Saya lahir dari sebuah keluarga kecil di sebuah kota kecil yang bernama Solo, kota kecil yang ada di tengah-tengah provinsi jawa tengah yang terkenal dengan keratonnya dan masyarakat yang terkenal masih menjunjung tinggi kebudayaan nenek moyang. Saya bernama Retno Wulandari, banyak nama panggilan untuk saya, dirumah saya ada sekitar tiga panggilan retno, wulan dan terakhir sebloh julukan yang diberikan oleh keluarga saya karena hidung saya yang sangat menarik, saking menariknya sampai tidak kelihatan, ya saya berhidung pesek, saya bangga dengan hal itu. Sejak dari tk sampai sma nama panggilan saya tetap Retno, sedangkan di bangku kuliah saya mendapat tiga panggilan berbeda. Pertama saya dipanggil dengan wulan seperti biasa, yang kedua disebut lala, nama panggilan yang diberikan saya oleh anak-anak Bem entah kenapa harus itu, yang ketiga nama indah yang benar-benar saya sukai yang diberikan oleh dosen grammar saya, nowul, ya nama yang indah kan. Saya dilahirkan dari hubungan lelaki bernama Kirno dan wanita bernama Tuminah. Sebelum saya datang kebumi dan tumbuh besar seperti ini, mereka sudah mendapat tiga orang anak laki-laki yang kelak aku sebut dengan Kakak. 29 Februari 1992, aku lahir di dunia ini pada pukul 6 pagi, tau apa yang special dari tanggal itu ? ya, tanggal itu hanya ada dan tertera di kalender masehi empat tahun sekali, ya dengan begitu aku hanya berulang tahun empat tahun sekali, indah bukan ? aku juga punya adik. Aku satu-satunya nak perempuan yang mereka miliki, karena itulah aku dijaga benar-benar oleh mereka.


Waktu kecil ku habiskan dengan masa-masa indah, banyak teman bermain. Banyak permainan tradisional yang masih membayang di otak saya yang kulakukan dengan mereka. Banyak kenangan indah yang masih saja kukenang sampai sekarang. Aku pernah diminta menjadi patah dalam pesta pernikahan tetangga ku karena saat itu aku dianggap anak yang cantik di daerah itu. Bangga ? ya pasti nya. Masa kecil itu palin indah yang pernah ku rasakan. Aku tumbuh bukan menjadi seorang wanita yang cantik, melainkan menjadi gadis tomboy dengan penampilan yang amburadul. Kenapa semua itu bisa terjadi? Karena aku lahir dan tumbuh ditengan-tengahnya banyak pria, semua anak saudara dari ibu dan bapak adalah pria, keempat saudara ku juga semuanya pria. Ya itu yang membuat saya seperti pria, dan itu masih terjadi sampai sekarang.


Kehidupan pendidikan ku tidak menarik untuk dibahas. Aku bersekolah di TK Pertiwi 5 Surakarta, selama setahun disana aku belajar banyak tentang cara membaca dan berhitung. Banyak kegiatan yang aku lakukan disana, kami, ya kami murid-murid tk tersebut termasuk didalamnya aku yang ikut, banyak foto masa itu yang masih ku simpan. Setelah selama setahun belajar disana aku mulai menginjak bangku sekolah dasar. Aku bersekolah di SD negeri Belik 122 Surakarta, sekolah itu memang luar biasa, walaupun hanya sekolah kecil dan terpencil tapi disanalah aku tumbuh menjadi anak pintar. Aku memang pintar sewaktu sd dulu. Ranking satu itu sudah menjadi makanan setiap pengambilan nilai raport. Nilai saya juga selalu bagus dibandingkan teman-teman lain di kelas saya. Saya sering menjadi murid yang disukai oleh guru-guru saya, bahkan mereka selalu mengandalkan saya disetiap acara yang dilangsungkan. Bangga saat itu. aku juga pernah mengikuti lomba cerdas cermat yang diselenggarakan oleh stasiun radio RRI, walaupun hanya mendapat juara dua dan hanya mendapatkan hadiah berupa mie kering. Tapi itu sebuah kebanggaan yang benar-benar tak pernah saya lupakan. Sering kali aku diajak oleh guru saya untuk mengikuti acara-acara pramuka di kota Solo. Banyak kenangan indah yang terselip di lipatan-lipatan memori otak saya. Setiap pertanyaan dari guru-guru saya selalu saya habiskan, entah kenapa saat itu saya benar-benar pintar.


Aku melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 5 Surakarta, yang terkenal dengan symbol “buto”nya, Entah kenapa harus memakai symbol itu. awalnya saya kaget saat menjadi murid disana, sekolah yang berjendela sangat besar, dengan taman ditenga-tengahnya serta lapangan yang sangat amat luar biasa besar dan banyaknya. Ada kenangan-kenangan indah disana. Aku menenukan teman-teman yang luar biasa. Di smp aku benar-benar beda dengan sd soal pendidikan, aku tidak pinta-pinta banget seperti layaknya jaman sd dulu. Tapi tetap 10 besar selalu mengikutkan namaku disana. Ada banyak kegiatan yang aku ikuti di sekolah itu, dari mulai Seni tari, qasidah, PMR dan Pramuka. Entah kenapa aku suka dengan kegiatan itu, setaip hari harus ku lalui engan pulang sore hari hanya untuk berkegiatan ria disekolah. Menyengangkan pastinya saat itu, disamping harus datang pagi buta pukul 6 pagi karena harus mengikuti jam ke nol yang diberlakukan disekolah itu. Selama Sembilan jam waktu yang kuhabiskan di sekolah, begitu parahnya aku saat itu. pulang sore hari santapan setiap hari. Setiap sore hari ibu selalu siap didepan pintu rumah menunggu saya yang tak kunjung pulang, setelah melihat aku sampai di pintu rumah kata-kata yang indah yang sudah beliau siapkan selalu diluncurkan dari bibirnya. Mulai dari pertanyaan “soko ngendi?”, “ngopo lagi muleh?” dan sebagainya selalu menyambut kepulangan saya. Setiap sabtu seusai pulang sekolah selalu saya habiskan dengan bermain dan menjelajah kota Solo dengan teman-teman saya. Waktu itu saya bukan anak mami yang selalu diantar dan dijemput oleh orang tuanya. Sepeda berwarna biru tua yang dibelikan eyang saya yang menemani dan menjadi saksi bisu semua kegiatan yang saya lalui pada saat itu. pengajian rutin yang digelar sebulan sekali oleh pihak sekolah menjadi ajang saya untuk melirik-lirik kakak tingkat. Entah kenapa saya sudah tertarik dengan lawan jenis sejak waktu itu. bahkan aku mengikuti ajang kegiatan pramuka pun dan menjadi salah satu pengurus hanya untuk mendekati gebetan saya. Hahaha. Lucu memang, tapi itu saya waktu dulu. Ada beberapa guru yang benar-benar menjadi inspirasi saya waktu itu, pak Imanuel, guru matematika saya, beliau benar-benar sosok yang sangat disiplin dan pintar, pak Dirin, guru fisika saya yang membuat saya menyukai fisika, dan pak Bambang atau anak-anak sering menyebutnya dengan pak Be, beliau begitu menyenangkan untuk diajak membicarakan sesuatu, beliau hanya seorang guru olahraga namun pantas sekali beliau menjadi guru bp karena beliau benar-benar mampu berkamuflase kedalam hati setaip muridnya. Akhir dari sekolah itu aku tutup dengan mendapatkan nilai tertinggi di sekolah sewaktu test bahasa inggris. Bangga waktu itu saat semua orang membicarakan saya.


Semua masa indah dan masa kelam waktu remaja aku habiskan di SMA Negeri 6 Surakarta, entah mengapa saya harus terdampar disana. Lagi-lagi saya mendapatkan sekolah yang memiliki lapangan luas, ada apa coba dengan lapangan. Saya tidak pintar, saya juga tidak bodoh waktu sma. Mendapat ranking hanya waktu kelas satu. Aku hanya mengikuti kegiatan PMR, ya sejak awal aku memang tertarik dengan dunia kesehatan. Kegiatan itu hanya berlangsung selama setahun, karena kesibukan yang telah menanti didepan mata. Aku terjebak di dunia ipa di kelas dua dan tiga. Setiap hari aku harus bergumul dengan angka dan rumus. Setiap hari dan setiap waktu aku habiskan dengan mengerjakan pr yang banyaknya bukan main. Praktek dan eksperimen yang setiap hari harus saya lakukan di ruang laboratorium yang letaknya di seberang lapangan yang luas mengakibatkan saya harus menghabiskan waktu hanya untuk menulis dan menulis hasil laporan. Banyak bolpoin dan kertas folio telah saya habiskan hanya untuk menulis laporan hasil praktikum. Menginjak kelas tiga benar-benar membuat saya gila, pulang sore hari karena ada kegiatan les tambhaan yang diberlakukan oleh sekolah untuk murid-murid kelas tiga. Setelah itu harus menghadapi pr yang diberikan oleh guru saya, pr itu tidak hanya satu atau dua melainkan berpuluh-puluh soal dan harus selesai satu hari. What the hell is that. Ulangan sepuluh menit yang diberikan oleh guru matematika saya setiap harinya membuat otak saya semakin ingin keluar dan berpindah ke kepala yang lain. Otak saya sudah tidak mampu menampung semua nya itu. Pusing, panas mendadak, maag kumat, menjadi penyakit wajib yang selalu datang bergantian setiap harinya. Aku juga mendapat teman-teman yang menyenangkan di kelas ipa itu. Banyak kenangan indah yang telah kami torehkan di masa-masa itu. Berdoa bersama dengan tangan bergandengan satu sama lain menjadi acara wajib kami sekelas sebelum meninggalkan sekolah, hal itu telah kami mulai sejak kelas dua. Lucu memang kedengarannya, tapi ada niat baik yang kami selalu doakan bersama “kami masuk bersama, keluar pun juga harus bersama”, dan itu pun membuat kami sekelas lulus, tak ada satu murid pun yang harus mengulang. Indah saat-saat itu, membuat saya sering merindukan hal itu.


1 Agustus 2009 menjadi tanggal yang indah bagi saya, aku terdaftar menjadi mahasiswa Universitas Sebelas Maret di jurusan sastra inggris. Awalnya aku ragu memilih jurusan itu. entah kenapa saat memasukkan nama jurusan aku dengan sangat percaya dirinya memilih sastra inggris sebagai jurusan pertama yang saya pilih. Nasib saya sudah ditakdirkan didunia itu, dunia yang berhubungan dengan bahasa. Aku sekarang sudah semester 6 dan sebentar lagi skripsi akan menghadang. Linguistic aku pilih sebagai mainstream di semester 5 kemarin. Kenapa harus linguistic, kenapa tidak dengan sastra, penerjemahan ataupun American studies, jawaban ku singkat “aku suka linguistic”. Linguistic membicarakan banyak hal tentang bagaimana cara kita mendapatkan bunyi yang sudah ada sekarang, bagaiman sejarahnya, bagaimana pola subject+predicat+object+keterangan itu muncu, bagaimana grammar harus ada. Di linguistic akan membahasnya, dan aku suka itu. Aku suka mengotak-atik sesuatu, dan itu dunia ku. Di bangku kuliah ini aku banyak mendapat pelajaran tentang arti hidup. BEM, ukm yang sengaja aku pilih untuk menjadi ajang pembuktian diri, lagi dan lagi hanya bertahan satu kepengurusan. Sudah banyak kegiatan yang aku lalui bersama teman-teman seperjuangan, seminar, acara didalam fakultas dan lain sebagainya sudah aku pernah alami. Satu hal yang tak pernah aku lupakan, Dusun Binaan, ya disana aku membantu anak-anak di daerah mojosongo untuk belajar. Aku suka kegiatan itu, aku suka saat melihat mereka tersenyum ikhlas dihadapan ku. Aku suka saat mereka menyebut nama ku dan mereka memandangku dengan tatapan seolah mereka menyayangiku. Aku suka saat mereka merengek-rengek meminta ku menjadi pendamping mereka dalam belajar. Aku suka saat mereka berharap aku masih disana mendampingi mereka, namun yang satu itu aku benar-benar kecewa tak bisa mengabulkannya, aku harus bertanggung jawab dengan kegiatan yang lain yang ngga mungkin aku tinggalkan. Kini saat-saat indah itu hanya bisa menjadi kenangan yang masih tersimpan di hidup saya. Saat melihat wajah-wajah polos mereka itulah masa-masa yang indah.
Kehidupan asmara ku memang tak indah untuk diceritakan. Aku tak pernah lama untuk menjalin sebuah hubungan. Tak ada kenangan indah yang perlu diceritakan disini.


Itu secuwil cerita yang bisa saya ceritakan tentang diri saya sendiri. Soal kehidupan pertemanan, asmara, keluarga dan lain sebagainya akan dibahs dichapter selanjutnya. Terima kasih