Sabtu, 03 Maret 2012

materi, haruskah?


Uang itu sangat berharga dan penting bagi siapapun di dunia ini. Bisa bayangin kalau uang ngga diketemukan, apa yang terjadi dengan sistem perekonomian di bumi. Masih ngandelin sistem barter, bisa-bisa pakaian dalam kita yang dijadiin barter karena yang mau dipake barter sudah tidak ada. Uang itu segalanya, dia menguasai semua aspek di bumi ini. Semua aspek kehidupan bisa dihandle hanya dengan selembar uang, termasuk masuk ke toilet umum aja kudu pake duit. Uang bisa menguasai bumi, termasuk menguasai tingkah laku seseorang.
Kadang kala kita sebagai perempuan pernah berfikir untuk mencari pasangan yang mapan *baik dari pekerjaan maupun keuangan*. Hal itu bukan hanya semata-mata kita pengen ngejar harta, bukan itu. Kita sebagai wanita hanya berfikir tentang masa depan yang akan dijalani nantinya, kita ngga mau suatu hari kelak kita akan kekurangan, hanya itu. Tapi ada beberapa wanita yang mikirnya salah, kenapa salah? Ada beberapa wanita yang mengejar seorang pria mapan untuk kesenengan pribadinya sendiri. Matre kalau bahasa gaulnya. Ketika pria itu banyak harta, si wanita ngga pengen ninggalin pria itu, dia bakal berusaha sekuat mungkin untuk membuat pria itu tetap disampingnya dan menyokong keuangan si wanita itu. Ketika tiba-tiba pria itu jatuh dan semua harta nya lenyap, ada beberapa wanita yang dengan sukarela meninggalkan pria itu jatuh sendirian tanpa ada bantuan dari si wanita itu. Tapi itu hanya beberapa dari wanita yang ada di bumi, ngga semuanya kayak gitu. Ada beberapa wanita yang dengan tulus membantu si pria untuk berdiri dan berlari kembali.
Pernah suatu ketika ada teman yang cerita ke aku tentang jatuh bangunnya dia buat ngangkat namanya lagi didepan wanita yang dia sayang. Aku belum benar-benar kenal dengan orang itu, tapi ceritanya membuat saya mengacungkan dua jempol buat usahanya. Dia berusaha untuk membuktikan kalau dia bisa dapat materi yang lebih dengan kerja kerasnya. Dia rela ninggalin semua bentuk kesenangan bagi seorang anak muda pada saat itu. Dia rela ngorbanin kuliah yang bagi setiap anak muda adalah bentuk harga diri yang tinggi, hanya buat ngebuktiin ke orang lain kalau dia mampu dan juga buat ngebantu keuangan keluarganya yang morat-marit ngga jelas.
Entah cerita itu bener-bener ada atau tidak, tapi bener-bener dia pria yang luar biasa. Pernah suatu ketika orang yang dia sayang *sebut saja pacarnya*, mencoba memutuskan hubungan dengan alasan ekonomi. Parah banget tu cewek. Si pria ini akhirnya bangkit dan saya pikir tujuan nya bangkit adalah untuk bilang ke tu cewek kalau dia bisa lebih dari yang dulu. Dia pengen nunjukin ke wanita itu kalau dia bisa punya materi yang lebih dari si pria yang dulunya pernah hampir ngerebut cintanya si cewek. *ngomong apa saya ini*. Siapa sih yang ngga pengen jadi pendamping pria seperti itu. Pria yang hebat, jarang-jarang aku muji sesorang laki-laki.
Sebagai wanita yang mau dianggap dimata seorang pria adalah dengan menemaninya saat dia mulai dengan hidupnya, lalu tumbuh menjadi hidup yang indah. Ketika dia jatuh, tolong dan bantu dia dengan tulus. Beri dia pengertian kalau hidup itu kadang kala memang harus dibawah. Setalah dia bangkit, ajak dia buat berlari. Dan jaga dia sampai akhir hayatnya. #sumpah parah ngomong ku.
Intinya sekarang gini aja. Jangan pernah ngeliat pria dari materi awalnya, tapi dari bagaimana prosesnya untuk mendapat materi itu, karena priayang melewati proses itu adalah pria yang hebat. Pria yang pantas buat hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar