Kuliah
pertama kali harus mendapat tugas meriview thesis dari angkatan atas, buat
dilihat kelebihan dan kekurangan. Walaupun hanya bab 1, tapi ini mulai membuat
saya pusing ngga ketulungan. Belum tugas presentasi yang lain. Pak dosen ampuni
saya donkk. Baru seminggu lebih 2 hari aja sudah disuruh
ngeliat thesis, yang saya pikir belum waktunya saya untuk melihatnya.
Tapi
satu hal yang membuat semua itu indah adalah pikiran saya yang mengatakan bahwa
membuat sebuah thesis itu mudah sekali. Efek ngelihat pekerjaan anak-anak
angkatan atas yang sudah jadi. Tapi kenapa mereka harus berlama-lama ya.
Engga
ngerti kenapa saya berfikiran bahwa thesis itu mudah, apa gara-gara saya yang
terlalu bersemangat agar bisa cepet lulus denga predikat sangat memuaskan. Tapi
semoga benar semua pikiran saya kali ini.
Pengen rasanya
balas itu sms dengan kalimat seperti ini:
“Banyak hal yang aku pengen ceritain ke
kamu masnya, aku kangen kamu”
Tapi, siapa aku?
Siapa?
Apa kapasitas ku
buat bilang kayak gitu. Aku bener-bener ngga punya sedikitpun kapasitas dan
daya buat bilang dengan kalimat seperti itu.
Pengen nyeritain
banyak hal yang terjadi beberapa hari ini ke dia. Tapi lagi dan lagi, siapa aku? Teman bukan, sodara bukan,
apalagi pacar.
Dan pada akhirnya
aku hanya menyimpan sms itu dan memilih untuk tidak membalas sms itu. danjuga
lebih memilih untuk menyimpan semua cerita-cerita yang aku pengen ceritain.
Saat itu tengah
malam, kau membawa ku berjalan ke suatu tempat yang indah. Aku berdiri diantara
banyak lilin yang menyala di sebuah pinggir pantai, dimana hanya ada aku dan
kamu disana. Kau berlutut dihadapan ku, membawa mawar putih bunga kesukaan ku dan
boneka penguin untuk ku.
Kau menyatakan
kepadaku bahwa kau ingin aku menjadi pendamping mu sampai nanti maut yang akan
memisahkan kita. Kau berjanji bahwa kita akan saling menjaga satu sama lain,
bahwa kita akan selalu menghadapi kesulitan dan kebahagian bersama.
Tiba-tiba lagu
berjudul Marry You milik Super Junior terputar dan terdengar ditelinga. Kau menyematkan
sebuah cincin di jari ku. Dan kita mengikat janji suci bersama selamanya.
Cuma impian nanti
kelak, jika seseorang melamar ku. J pengennya sih gitu. Tapi tau nanti bagaimana.
Satu hadiah yang
paling berharga dari yang lainnya yang saya pernah dapat dari Allah itu
keluarga saya.
Dari sanalah aku
belajar, mengerti dan memahami bagaimana hidup itu berjalan. Aku belajar
bagaimana cara menghidupi orang-orang yang kita sayang. Aku belajar bagaimana
cara mengatur semua kebutuhan. Bagaimana cara memperlakukan orang-orang yang
kita sayang, bagaimana cara kita untuk membuat orang disekeliling kita
tersenyum. Bagaimana cara untuk menjaga saudara kita agar tetap berada di
samping kita. Bagaimana caranya berbagi dengan orang lain. Bagaimana cara untuk
selalu bersyukur atas apa yang kita dapat. Dari sana aku belajar untuk saling
memberi semangat saat salah satu dari kita terjatuh. Dari sana aku belajar
bagaimana caranya untuk menyeka air mata suami dan anak-anak kita. Dari sana
aku belajar dan memahami hidup. Aku belajar untuk menjadi ibu yang baik untuk
suami dan anak-anak ku kelak. Aku belajar bagaimana susahnya mencari nafkah
untuk keluarga. Aku belajar bagaimana untuk menjadi kakak dan adik yang baik
bagi saudara kita. Aku belajar bagaimana cara memahami hati seseorang. Aku belajar
bagaimana cara untuk saling menghargai satu dengan yang lain. Aku belajar
bagaimana menjadi pendengar dan penasehat yang baik.
Aku banyak
mendapat pelajaran yang paling berharga yang tidak akan pernah usang.Walaupun sikap
ku kadang menjengkelkan, walaupun kadang sikap ku membuat mereka gerah,
walaupun kadang sikap ku membuat mereka menangis. Tapi satu hal yang paling indah
adalah aku mencintai mereka dengan sangat, tanpa paksaan, tulus dari segi
apapun.
Mereka, ya mereka
bapak, ibu dan keempat saudara ku tetap jadi guru yang baik buat aku.